Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Berdamai dengan Covid-19

                
                   {••••••••••••••••••••••••••••••}

Virus Covid-19 menjadi wabah yang sangat meresahkan. Tingkatannya bukan hanya Indonesia akan tetapi seluruh penjuru dunia. Karena penyebarannya yang sangat cepat, seluruh kegiatan baik dari ekonomi, soaial maupun keagamaan terpakasa dihentikan untuk meminimalisir  penularan wabah ini. Yang merasa diresahkan bukan hanya penderitanya tapi seluruh warga yang ada di dalamnya. Semua golongan termasuk pelajar, guru, dosen, mahasiswa, pedagang, pengusaha bahkan konglomerat sekalipun juga pasti merasa resah dengan adanya pandemi Covid-19 ini. 

Sejak kegiatan pembelajaran bersistem daring, para siswa merasa kesulitan dalam menangkap pelajaran yang disampaikan oleh guru. Para guru pun juga merasa kesulitan bagaimana cara menyampaikan pelajaran dengan sempurna. Karena dengan sistem online ini, para siswa pasti juga tidak sepenuhnya memperhatikan penjelasan guru-guru. Alih-alih membuka hp untuk daring, yang ada malah mampir ke tik-tok, scroll-scroll instagram dan bahkan juga disambi membalas chat dari kekasih. Para guru pun semakin kesini mungkin juga semakin bosan dan malas menghadapi keadaan seperti ini. Ada yang hanya memberi tugas tanpa penjelasan lebih lanjut, ada yang memilih mengosongkan jam pelajaran, ada juga yang tak memberi kabar apapun. 

Miris memang, akan tetapi saat ini kita memang sedang berada di titik ini. Hanya bisa berdoa semoga hanya satu diantara seribu yang seperti demikian, harapan kedepannya mudah-mudahan para siswa tetap semangat dalam belajar dan lebih aktif dalam pembelajaran secara daring ini serta bisa lebih kreatif dalam memanfaatkan platform pembelajaran online yang ada. Sehingga para guru pun juga menjadi semangat dalam memberikan pembelajaran dan keadaan yang tadi pun juga bisa diminimalisir.

Para pedagang pun juga merasa sedih karena menurunnya jumlah pembeli. Ditambah adanya PPKM yang mengharuskan warga di rumah saja juga semakin membuat para pedagang bersedih. Semua kegiatan jual beli diperketat, jalan-jalan di tutup dan seluruh kegiatan dibatasi. Bisa dibilang kegiatan perekonomian menjadi lumpuh sesaat karena pengeluaran lebih besar daripada pemasukan. Lebih besar pasak daripa tiang, begitulah kata pepatah.

Bukan hanya itu, para tim medis pun juga pasti merasa kewalahan dengan banyaknya pasien yang terpapar virus ini. Tenaga, fasilitas, dan sarpras yang ada mungkin tidak bisa mencukupi kebutuhan pasien saat ini. Terbukti rumah sakit penuh oleh penderita covid, alat-alat kesehatan seperti tabung gas, alat perapasan dan lain sebagainya dulit divari bahkan langka. Dengan jumlah pasien yang semakin meningkat setiap harinya, hal ini menjadi sesuatu yang sangat memprihatinkan bagi kita semua.

Saya sendiri sebagai mahasiswa, mengaku sangat terpuruk dengan adanya pandemi ini. Di hari-hari biasa sebelumnya, saya bisa merasakan pendidikan di balik bangku perkuliahan. Akan tetapi, semenjak adanya wabah ini, semua kegiatan perkuliahan dilakukan dengan sistem online. Yang biasanya bisa belajar bareng, ke perpus bareng, jalan-jalan bareng temen-temen kini semua berubah. Tak ada lagi meet up, belajar kelompok, cari referensi di perpustakaan bareng-bareng lagi. Bahkan, sekarang malah seperti orang yang tidak saling kenal karena lama tidak saling berkomunikasi. Jika boleh memilih, tentu bukan keadaan ini yang akan aku pilih. 

Sampa detik ini, virus covid-19 masih saja menghantui seluruh warga. Kapan pandemi ini berakhir? Kapan bisa kumpul-kumpul sama temen-temen lagi? Kapan bisa beraktivitas secara normal lagi?

Pertanyaan semacam itu kini marak diperbincangkan. Sudah lebih dari 2 tahun kita menjalani hidup ditengah wabah Covid-19. Perasaan was-was, takut, cemas semua muncul menjadi satu. Dimulai dari berita Covid-19 yang dulu seakan-akan tidak nyata, kini benar-benar menjadi kenyataan yang bahkan membuat banyak orang sulit percaya. Satu per satu orang terkena wabah ini. Ada yang sembuh, ada yang sedang berjuang untuk sembuh. Bahkan,  ada juga yang "gagal" sembuh.

Ketakutan semakin meningkat bersamaan dengan kabar pasien positif meningkat di setiap harinya. Banyak juga yang meninggal akibat terserang oleh virus ganas ini. Rasanya, hampir setiap hari mendengar kabar "lelayu". Tak hanya dari lingkungan sekitar saja, melainkan juga dari berbagai daerah. Wabah Covid-19 ini bagai monster yang menakutkan. Manusia seakan sedang berperang dengan monster yang tidak bisa dilihat bahkan diprediksi kapan datangnya. 

Kita hanya bisa berikhtiar dengan seluruh rangkaian protokol kesehatan yang ada. Akan tetapi, tak ada yang bisa menjamin bahwa ketika kita sudah berikhtiar kuta tidak akan bisa terjangkit oleh virus tersebut. Virus ini tak mengenal kasta dan usia. Ia bisa menyerang siapa saja dan di manapun tempatnya. Kita mungkin bisa berhati-hati tapi kita tetap tak punya kendali secara pasti.

Perasaan suntuk dan bosan pasti tak henti-henti menghampiri. Bagaimana tidak? Yang dulu nya bisa pergi kemana aja, untuk saat ini harus bertahan diri di rumah saja. Yang dulunya bisa kumpul dan berbagi cerita bersama-sama, kini harus bertahan untuk saling menjaga. Segala macam pertemuan dan acara, kini juga diselenggarakan secara virtual saja.

Rasa kesal, kecewa dan belum bisa menerima pasti ada. Akan tetapi kian kesini harus nya kita mulai sadar, bahwa memang terkadang kita harus kehilangan dulu agar bisa merasakan nikmat Allah Swt yang tiada terkira. "Kalau sudah tiada baru terasa" begitulah cuplikan lagunya. Terkadang kita baru sadar tentang berharganya sesuatu ketika sesuatu itu telah hilang. Setelah kita sakit kita baru sadar bahwa sehat itu nikmat yang luar biasa. Sama halnya ketika kita merasa bahwa bisa berkumpul dan bercerita dengan teman dekat dan keluarga itu hal yang biasa-biasa aja, kini hal itu rasanya seperti kerinduan yang memuncak di dada.

Apapun itu, kita harus sama sama percaya bahwa setiap badai pasti akan berlalu. Kita semua pasti bisa melewati masa-masa ini. Saat ini yang harus kita lakukan adalah saling menjaga satu sama lain. Mematuhi seluruh protokol kesehatan yang ada. Bersabar, berdoa dan selalu berpikir positif. 

Stay Happy, Stay Healthy ✨
Miladiya Ulfa Nahdiyana
Miladiya Ulfa Nahdiyana Hanya Manusia Biasa

Posting Komentar untuk "Berdamai dengan Covid-19"